Pemahaman Budaya dan Agama Kurang Tepat Picu Diskriminasi

By admin, 25/09/2018

Pemahaman Budaya dan Agama Kurang Tepat Picu Diskriminasi

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise

Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menilai, pemahaman mengenai budaya setempat dan pemikiran agama yang kurang tepat, telah menyebabkan praktik diskriminasi gender di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam kuliah umum `Peran Perguruan Tinggi dalam Percepatan Pencapaian Kesetaraan dan Keadilan Gender` di Universitas 17 Agustus, Semarang, Jawa Tengah pada Selasa (25/9).



“Pemahaman yang ada saat ini merupakan pemahaman yang sebagian besar dipengaruhi oleh budaya setempat dan dibangun dari pemikiran agama yang kurang tepat. Oleh karenanya, kami menginginkan pemahaman tentang kesetaraan dan keadilan gender yang benar dan tepat,” kata Menteri Yohana.

“Pemahaman ini (yang benar, red) dapat secara terus menerus dibawa dan dilembagakan dalam masyarakat melalui peran seluruh lapisan masyarakat, termasuk perguruan tinggi,” lanjutnya.

Baca juga :

Menurut Menteri PPPA, alasan melibatkan perguruan tinggi dalam mewujudkan kesetaraan gender ialah, perguruan tinggi memiliki peranan penting dan strategis dalam menyebarluaskan pengetahuan, nilai, norma, dan ideologi, serta karakter bangsa. Dalam hal ini tidak terkeceuali kesetaraan dan keadilan gender.

“Diharapkan nanti dapat membantu membangun dan meningkatkan pemahaman tentang kesetaraan gender yang lengkap, sehingga berdampak pada pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa dalam praktik kehidupan sehari-hari, dan profesi yang dijalani,” terangnya.

Pemahaman mengenai kesetaraan dan keadilan gender dinilai penting, mengungat angka kekerasan terhadap perempuan semakin tinggi.

Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2016 yang dilakukan oleh Kemen PPPA bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), kesetaraan gender di Indonesia masih memprihatinkan.

Survei tersebut membuktikan bahwa satu dari tiga perempuan usia 15-65 tahun mengalami kekerasan fisik dan atau seksual sepanjang hidupnya. Di samping itu, terungkapnya berbagai kasus kejahatan seksual akhir-akhir ini, menurut Yohana, menimbulkan berbagai kekhawatiran.

“Perempuan dan anak menjadi objek sekaligus korban dari kejahatan ini,” tandasnya.

TAGS : KPPPA Diskriminasi Gender Yohana Yembise

This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/41288/Pemahaman-Budaya-dan-Agama-Kurang-Tepat-Picu-Diskriminasi/

Share this:

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*